Babad Mataram Sri Sultan Hamengku Buwono I: Jejak Sejarah Berdirinya Kasultanan Yogyakarta
Babad Mataram merupakan salah satu sumber penting dalam memahami perjalanan sejarah kerajaan-kerajaan Jawa, termasuk masa peralihan dari Kerajaan Mataram Islam menuju terbentuknya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Salah satu bagian penting dari tradisi babad tersebut berkaitan dengan perjalanan hidup dan pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I, tokoh yang sebelumnya dikenal sebagai Pangeran Mangkubumi. Naskah Babad Mataram yang berkaitan dengan masa pemerintahannya tidak hanya merekam konflik politik dan peperangan, tetapi juga menggambarkan proses lahirnya sebuah pusat kekuasaan baru yang kemudian berkembang menjadi Yogyakarta.
Foto yang menjadi objek pembahasan memperlihatkan naskah Babad Mataram yang dipamerkan di ruang Smara Bawana, Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Kehadiran naskah tersebut memperlihatkan bahwa sejarah Yogyakarta tidak hanya dapat dipahami melalui bangunan keraton, benda pusaka, atau tradisi yang masih hidup hingga sekarang, tetapi juga melalui naskah yang menyimpan ingatan sejarah masyarakat Jawa. Dalam konteks pameran tersebut, Babad Mataram menjadi salah satu sumber yang menghubungkan pengunjung dengan dinamika politik Jawa pada abad ke-18.
Pangeran Mangkubumi dan Pergolakan MataramSri Sultan Hamengku Buwono I lahir pada 5 Agustus 1717 dengan nama kecil beliau Bendara Raden Mas Sujono. Beliau merupakan putra Sunan Amangkurat IV. Dalam perjalanan hidupnya, beliau kemudian dikenal sebagai Pangeran Mangkubumi. Sejak muda, Pangeran Mangkubumi dikenal memiliki kemampuan dalam bidang keprajuritan, berkuda, dan penggunaan senjata. Ia juga dikenal memiliki kedekatan dengan masyarakat serta memegang teguh nilai-nilai keagamaan dan budaya Jawa.
Masa kehidupan Pangeran Mangkubumi berlangsung ketika Mataram mengalami berbagai persoalan politik dan pemberontakan. Pengaruh VOC semakin kuat dalam urusan internal kerajaan. Konflik perebutan kekuasaan juga melibatkan berbagai tokoh, termasuk Paku Buwono III dan Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa.
Ketegangan tersebut semakin meningkat setelah Pangeran Mangkubumi merasa bahwa kepentingan politik Mataram semakin dipengaruhi oleh VOC. Pada akhirnya, ia meninggalkan lingkungan istana dan melakukan perlawanan bersenjata. Bersama para pengikutnya, Pangeran Mangkubumi berhasil menguasai sejumlah wilayah dan memberikan tekanan besar kepada VOC. Perlawanan tersebut berlangsung selama bertahun-tahun dan menjadi salah satu konflik penting dalam sejarah Jawa abad ke-18.
Perjuangan Pangeran Mangkubumi pada akhirnya mendorong VOC untuk mencari jalan penyelesaian melalui diplomasi. Setelah serangkaian perundingan, tercapailah kesepakatan yang kemudian dituangkan dalam Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755.
Perjanjian Giyanti dan Lahirnya Kasultanan YogyakartaPerjanjian Giyanti merupakan titik balik yang sangat penting dalam sejarah Mataram. Perjanjian tersebut menyebabkan wilayah Kerajaan Mataram terbagi, dengan Pangeran Mangkubumi memperoleh wilayah dan kemudian mendirikan pemerintahan baru yang dikenal sebagai Ngayogyakarta Hadiningrat. Pada 13 Maret 1755, Pangeran Mangkubumi dinobatkan sebagai raja pertama dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono I.
Namun, lahirnya sebuah kerajaan baru tidak berarti pembangunan pemerintahan dapat dilakukan secara instan. Pangeran Mangkubumi sebagai Sultan harus membangun pusat pemerintahan, sistem sosial, pertahanan, serta identitas budaya yang mampu menopang kerajaan yang baru berdiri.
Pada tahap awal, Sultan Hamengku Buwono I dan para pengikutnya tinggal di Pesanggrahan Ambarketawang sambil menunggu pembangunan pusat pemerintahan baru. Ambarketawang bukan sekadar tempat tinggal sementara, tetapi juga memiliki fungsi pertahanan karena lokasinya dianggap strategis. Berdasarkan data Jogjacagar, Sultan berada di Ambarketawang sejak Oktober 1755 hingga kemudian berpindah ke Keraton Yogyakarta pada 7 Oktober 1756.
Membangun Kota dan Keraton YogyakartaSalah satu warisan terbesar Sultan Hamengku Buwono I adalah pembangunan Keraton Yogyakarta. Lokasi keraton dipilih dengan mempertimbangkan kondisi geografis dan lingkungan. Wilayah tersebut berada di antara Kali Code dan Kali Winongo, dengan Gunung Merapi di sebelah utara dan Laut Selatan di sebelah selatan. Tata ruang tersebut kemudian menjadi bagian penting dari karakter filosofis Kota Yogyakarta.
Pembangunan Keraton Yogyakarta juga tidak sekadar ditujukan sebagai tempat tinggal raja. Keraton dirancang sebagai pusat pemerintahan, kebudayaan, kehidupan spiritual, sekaligus simbol legitimasi kekuasaan. Tata ruang, bangunan, ornamen, hingga unsur tumbuhan di lingkungan keraton kaya akan makna filosofis.
Sultan Hamengku Buwono I juga membangun berbagai sarana pendukung kerajaan, termasuk benteng dan pesanggrahan. Salah satu karya yang kemudian menjadi ikon Yogyakarta adalah Taman Sari. Kemampuan Sultan dalam bidang tata kota dan arsitektur membuatnya dikenal sebagai seorang pemimpin yang bukan hanya kuat secara militer, tetapi juga memiliki visi pembangunan yang luas. Kraton Yogyakarta sendiri menyebutnya sebagai seorang great builder, sejajar dengan Sultan Agung dalam hal kemampuan membangun peradaban.
Babad sebagai Rekaman Sejarah dan IngatanDalam memahami Babad Mataram, penting untuk melihat bukan hanya sebagai buku sejarah dalam pengertian modern. Tradisi babad merupakan bagian dari budaya tulis Jawa yang berfungsi merekam perjalanan tokoh, kerajaan, peperangan, pergantian kekuasaan, serta berbagai peristiwa yang dianggap penting oleh masyarakat pada zamannya.
Karena itu, babad dapat mengandung unsur sejarah, tradisi, simbol, dan pandangan budaya sekaligus. Nilai pentingnya tidak hanya terletak pada apakah setiap detail di dalamnya dapat dibuktikan secara kronologis dengan sumber modern, tetapi juga pada kemampuannya memperlihatkan bagaimana suatu masyarakat memahami dan mengingat masa lalunya.
Dalam konteks Babad Mataram yang berkaitan dengan Sri Sultan Hamengku Buwono I, naskah tersebut membantu memperlihatkan bahwa berdirinya Yogyakarta bukanlah sebuah peristiwa yang muncul secara tiba-tiba. Di balik berdirinya keraton terdapat konflik politik yang panjang, perjuangan bersenjata, perundingan dengan VOC, pembagian wilayah Mataram, serta usaha membangun identitas kerajaan baru.
Warisan Sri Sultan Hamengku Buwono IWarisan Sultan Hamengku Buwono I tidak berhenti pada bangunan fisik Keraton Yogyakarta. Beliau juga berperan besar dalam membentuk dasar kebudayaan Kasultanan Yogyakarta. Berbagai bentuk seni berkembang pada masa pemerintahannya, antara lain Beksan Lawung, Wayang Wong dengan lakon Gondowerdaya, Tari Eteng, serta seni Wayang Purwa.
Selain itu, nilai-nilai kepemimpinan yang dikaitkan dengan Sultan Hamengku Buwono I terus menjadi bagian dari identitas budaya Yogyakarta. Konsep seperti nyawiji, greget, sengguh, dan ora mingkuh menggambarkan pentingnya konsentrasi, semangat, kepercayaan diri, serta tanggung jawab. Nilai tersebut kemudian menjadi bagian dari karakter keprajuritan dan seni tari Yogyakarta.
Sri Sultan Hamengku Buwono I wafat pada 24 Maret 1792 dan dimakamkan di Astana Kasuwargan, Pajimatan Imogiri. Lebih dari dua abad setelah wafatnya, warisan yang ditinggalkannya masih dapat dilihat dalam bentuk Keraton Yogyakarta, tata ruang kota, seni budaya, tradisi kerajaan, serta berbagai naskah sejarah seperti Babad Mataram. Pada 3 November 2006, pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Sri Sultan Hamengku Buwono I atas jasanya dalam perjuangan dan pembentukan jati diri bangsa.
Dengan demikian, Babad Mataram Sri Sultan Hamengku Buwono I dapat dipandang sebagai jendela untuk memahami proses panjang lahirnya Yogyakarta. Naskah tersebut mengingatkan bahwa Yogyakarta yang dikenal sekarang merupakan hasil dari perjalanan sejarah yang kompleks: perjuangan mempertahankan kekuasaan Mataram, diplomasi dan konflik dengan VOC, pembentukan pemerintahan baru, pembangunan kota, serta penciptaan kebudayaan yang kemudian diwariskan dari generasi ke generasi.
Melihat naskah tersebut di ruang Smara Bawana bukan sekadar melihat sebuah buku tua. Di balik lembaran-lembarannya terdapat ingatan mengenai perjuangan, kekuasaan, kebudayaan, dan cita-cita membangun sebuah negeri. Babad Mataram menjadi penghubung antara masa lalu dan masa kini, sekaligus menjadi pengingat bahwa identitas Yogyakarta dibentuk melalui perjalanan sejarah yang panjang dan penuh perubahan.