Memahami Evaluasi Pembelajaran: Tidak Berhenti pada Kepuasan Peserta
Ketika sebuah pelatihan selesai, hal yang sering ditanyakan adalah, “Bagaimana pelatihannya? Puas atau tidak?” Pertanyaan tersebut memang penting, tetapi sebenarnya belum cukup untuk mengetahui apakah sebuah pembelajaran benar-benar berhasil.
Pelatihan yang mendapatkan respons positif dari peserta belum tentu membuat peserta lebih mampu dalam pekerjaannya. Demikian pula, peserta yang memperoleh nilai tinggi dalam tes belum tentu menerapkan apa yang dipelajarinya ketika kembali ke tempat kerja.
Karena itu, evaluasi pembelajaran perlu melihat proses yang lebih lengkap: bagaimana pengalaman peserta, apa yang dipelajari, apakah hasil belajar diterapkan, dan apakah penerapannya memberikan hasil bagi organisasi.
Secara sederhana, evaluasi dapat dilihat melalui empat level, yaitu Reaction, Learning, Behaviour, dan Results.
Level 1 – Reaction: Bagaimana Pengalaman Peserta?
Level pertama melihat respons peserta terhadap pembelajaran yang diikuti.
Di sini kita dapat mengetahui apakah peserta merasa puas, terlibat selama pembelajaran, dan menganggap materi yang diberikan relevan dengan kebutuhan mereka.
Beberapa hal yang dapat diperhatikan antara lain:
- kepuasan peserta terhadap pelatihan;
- keterlibatan peserta selama proses pembelajaran;
- kesesuaian materi dengan kebutuhan peserta;
- apakah pembelajaran sudah cukup berpusat pada peserta; dan
- variasi metode atau pendekatan pembelajaran yang digunakan.
Untuk mendapatkan informasi tersebut, kita dapat menggunakan survei, pengamatan, FGD, wawancara, atau cara lainnya.
Jadi, pertanyaan sederhana pada level ini adalah:
“Bagaimana pengalaman peserta selama mengikuti pembelajaran?”
Level 2 – Learning: Apa yang Benar-Benar Dipelajari?
Setelah mengetahui respons peserta, pertanyaan berikutnya adalah apakah peserta benar-benar memperoleh hasil belajar yang diharapkan.
Hasil belajar dapat berupa pengetahuan, keterampilan, maupun kemampuan tertentu yang memang menjadi tujuan pembelajaran.
Misalnya, seseorang mengikuti pelatihan pengelolaan arsip. Setelah pelatihan, yang perlu dilihat bukan hanya apakah ia merasa puas, tetapi apakah ia memahami cara pengelolaan arsip dan mampu melakukannya.
Tingkat penguasaan juga dapat dilihat secara bertahap. Ada peserta yang baru memahami konsep, ada yang sudah mampu melakukannya dengan bantuan, ada yang sudah mandiri, bahkan ada yang sudah mampu mengajarkannya kepada orang lain.
Pengukuran dapat dilakukan menggunakan tes maupun non-tes, baik melalui evaluasi formatif, sumatif, maupun perbandingan pre-test dan post-test.
Pertanyaan utamanya:
“Setelah mengikuti pembelajaran, apa yang berubah dalam pengetahuan atau kemampuan peserta?”
Level 3 – Behaviour: Apakah Hasil Belajar Dipakai di Tempat Kerja?
Di sinilah evaluasi mulai melihat apa yang terjadi setelah peserta kembali ke lingkungan kerjanya.
Seseorang mungkin memahami materi pelatihan dan mampu mengerjakan tes dengan baik. Namun, apakah pengetahuan dan keterampilan tersebut benar-benar digunakan dalam pekerjaannya?
Level 3 melihat penerapan hasil belajar tersebut.
Ada peserta yang tidak mencoba menerapkannya. Ada yang sudah mencoba, tetapi belum berhasil. Ada pula yang berhasil menerapkannya dan kemudian menjadikannya bagian dari cara kerja sehari-hari.
Hal yang perlu diperhatikan adalah penerapan hasil belajar tidak sepenuhnya bergantung pada peserta. Lingkungan kerja, proses kerja, dukungan pimpinan, fasilitas, serta sistem yang ada di organisasi juga dapat memengaruhi keberhasilan penerapan.
Pertanyaan sederhananya:
“Setelah kembali bekerja, apakah peserta menggunakan apa yang sudah dipelajarinya?”
Level 4 – Results: Apa Dampaknya bagi Organisasi?
Level terakhir melihat hal yang lebih luas, yaitu hasil yang diberikan pembelajaran bagi organisasi.
Jika hasil belajar sudah diterapkan dalam pekerjaan, kita dapat melihat apakah penerapan tersebut membawa perubahan yang berarti.
Pada tingkat unit kerja, misalnya:
- pekerjaan menjadi lebih baik;
- kesalahan dalam pekerjaan berkurang;
- pegawai menjadi lebih percaya diri dalam menjalankan tugas.
Dari sisi pengelolaan SDM, perubahan dapat terlihat dari meningkatnya keterlibatan dan inisiatif pegawai.
Sementara dari sisi penerima layanan, perubahan dapat terlihat dari meningkatnya kepuasan atau membaiknya citra organisasi.
Pertanyaan yang ingin dijawab pada level ini adalah:
“Apa manfaat yang akhirnya dirasakan oleh organisasi dari pembelajaran yang dilakukan?”
Jadi, Apa yang Sebenarnya Perlu Kita Evaluasi?
Keempat level tersebut pada dasarnya saling berhubungan.
Peserta merasakan pengalaman belajar → peserta memperoleh pembelajaran → hasil belajar diterapkan → penerapan memberikan hasil bagi organisasi.
Karena itu, evaluasi pembelajaran sebaiknya tidak berhenti pada angka kepuasan peserta atau nilai post-test.
Misalnya, sebuah pelatihan memperoleh nilai kepuasan 4,8 dari 5. Angka tersebut menunjukkan respons peserta yang baik, tetapi belum menjawab apakah peserta benar-benar memperoleh kemampuan baru. Lebih jauh lagi, angka tersebut juga belum menunjukkan apakah kemampuan tersebut digunakan dalam pekerjaan dan memberikan perubahan bagi organisasi.
Di sinilah pentingnya melihat evaluasi secara bertahap.
Ringkasnya:
| Level | Yang Dilihat | Pertanyaan |
|---|---|---|
| Level 1 – Reaction | Pengalaman peserta | Bagaimana peserta merasakan pembelajaran? |
| Level 2 – Learning | Hasil belajar | Apa yang benar-benar dipelajari? |
| Level 3 – Behaviour | Penerapan di tempat kerja | Apakah hasil belajar digunakan dalam pekerjaan? |
| Level 4 – Results | Dampak bagi organisasi | Apa perubahan yang dihasilkan bagi organisasi? |
PENUTUP
Evaluasi bukan sekadar kegiatan untuk mengisi formulir setelah pelatihan selesai. Evaluasi adalah cara untuk belajar dari proses pembelajaran itu sendiri.
Dari hasil evaluasi, kita dapat mengetahui bagian mana yang sudah berjalan baik, bagian mana yang perlu diperbaiki, dan yang tidak kalah penting, apakah pembelajaran yang kita selenggarakan benar-benar memberikan manfaat ketika peserta kembali bekerja.
Dengan demikian, semakin tinggi level evaluasi yang dapat kita lakukan, semakin jauh kita dapat melihat nilai pembelajaran dari ruang kelas sampai ke tempat kerja dan organisasi.