img

Mengungkap Makna Ornamen Sengkalan Memet di Kraton Yogyakarta

Setiap sudut dan ukiran yang ada dalam Kraton Yogyakarta memiliki arti dan filosofi. Lebih dari sekadar hiasan, ornamen di Kraton, terutama gerbang-gerbangnya, menyimpan rahasia waktu. Itulah yang disebut Sengkalan Memet atau sebuah sandi angka yang diwujudkan dalam bentuk visual, dari patung, relief, hingga komposisi hiasan. Mari kita coba "membaca" salah satu sengkalan memet yang paling menonjol pada Gerbang Regol Donopratopo. Gerbang utama yang menghubungkan Plataran Keben dengan Plataran Srimanganti pada puncak gerbang, di antara dua naga besar yang memegang untaian hiasan, terdapat sebuah komposisi yang penuh makna. Di sinilah Sengkalan Memet "Dwi Naga Rasa Tunggal" tersembunyi. Untuk membacanya, kita harus membedah watak dari kata-kata tersebut dalam bahasa Jawa.

Pertama, ada kata "Dwi" atau "Loro" yang berarti "Dua". Ini diwujudkan dalam dua patung naga yang besar dan gagah di sisi kiri dan kanan, yang seolah-olah menjaga gerbang.

Kedua, ada kata "Naga". Naga itu sendiri dalam watak kata memiliki nilai "Delapan".

Ketiga, ada kata "Rasa" yang bernilai "Enam". Dalam visual gerbang ini, watak rasa sering diasosiasikan dengan wajah raksasa (Topeng Buto) di tengah, yang melambangkan emosi atau perasaan, serta untaian padi dan bunga di sekitarnya sebagai simbol rasa syukur.

Keempat, ada kata "Tunggal" yang berarti "Satu". Ini bisa merujuk pada satu Topeng Buto di tengah, satu ornamen bulat di puncak gerbang (yang melambangkan bumi atau keesaan Tuhan), atau bahkan kesatuan dari seluruh gerbang itu sendiri.

Sengkalan dibaca terbalik dari belakang ke depan, yaitu: 2 - 8 - 6 - 1. Angka-angka ini disusun menjadi 1682. Itulah Tahun Jawa 1682.

Tahun Jawa 1682 itu bertepatan dengan tahun 1756 Masehi. Tahun tersebut adalah tahun di mana Pangeran Mangkubumi (kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I) mendirikan Kraton Yogyakarta setelah Perjanjian Giyanti. Jadi, Sengkalan Memet "Dwi Naga Rasa Tunggal" diabadikan di gerbang ini sebagai peringatan berdirinya Kraton.

Namun, ada satu detail yang mungkin membuat orang menjadi bingung. Jika sengkalan visual itu melambangkan tahun 1756 Masehi, mengapa di samping naga di gambar tertera angka 1928?

Angka 1928 di sini adalah tahun Masehi, yang menunjukkan waktu pemugaran atau pembangunan gerbang Donopratopo dalam bentuknya yang sekarang. Pemugaran besar-besaran ini dilakukan di masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Sultan HB VIII, yang bertahta dari tahun 1921 hingga 1939, memang dikenal sebagai "Raja Pembangunan" di Kraton, karena banyak memugar bangunan Kraton dengan sentuhan gaya arsitektur kolonial.

Jadi, di gerbang yang satu ini, kita melihat perpaduan sejarah yang luar biasa. Sengkalan Memet visual "Dwi Naga Rasa Tunggal" mengabadikan sejarah berdirinya Kraton (1756 M), sementara angka 1928 mengabadikan sejarah pemugaran gerbang itu sendiri. Dipertegas lagi dengan teks aksara Jawa di atas topeng Buto yang menceritakan perihal sengkalan tersebut.

Ini adalah bukti betapa kayanya budaya Jawa. Ukiran di gerbang bukan sekadar seni semata, tapi sebuah sejarah. Setiap naga, setiap topeng Buto, bahkan setiap untaian hiasan memiliki makna dan nilai waktunya sendiri. Di balik keindahannya, mungkin Anda akan menemukan sandi rahasia lain yang menanti untuk dibaca.